Fly Over Pasopati
Pada tugas kali ini saya akan mencoba untuk menganalisa jenis material
penyusun suatu bangunan. Saya memilih untuk menganalisa jenis material
pada fly over Pasopati, yang berlokasi di Jalan Layang Pasopati, Bandung.
Saya menganalisa bahwa secara umum, bangunan ini dirancang dengan
material penyusunumum yaitu baja dan beton. Setelah melakukan
identifikasi, dapat saya simpulkan proporsi material yang ada pada
bangunan tersebut adalah sebagai berikut.Beton 50%(digunakan pada pilar
dan jalan raya)
Baja 40% (digunakan pada pilar dan cable stayed jembatan)
Bata 10% (digunakan pada sekitaran pondasi/pilar)
Saya akan membahas 2 material yang paling banyak digunakan dalam membangun fly over ini, yaitu beton dan baja.
1. Beton
Beton merupakan salah satu bahan konstruksi yang telah umum digunakan untuk bangunan gedung, jembatan, jalan, dan lain-lain. Beton merupakan satu kesatuan yang homogen. Beton ini didapatkan dengan cara mencampur agregat halus (pasir), agregat kasar (kerikil), atau jenis agregat lain dan air, dengan semen portland atau semen hidrolik yang lain, kadang-kadang dengan bahan tambahan (aditif) yang bersifat kimiawi ataupun fisikal pada perbandingan tertentu, sampai menjadi satu kesatuan yang homogen. Campuran tersebut akan mengeras seperti batuan. Pengerasan terjadi karena peristiwa reaksi kimia antara semen dengan air.
Beton yang sudah mengeras dapat juga dikatakan sebagai batuan tiruan, dengan rongga- rongga antara butiran yang besar (agregat kasar atau batu pecah), dan diisi oleh batuan kecil (agregat halus atau pasir), dan pori-pori antara agregat halus diisi oleh semen dan air (pasta semen). Pasta semen juga berfungsi sebagai perekat atau pengikat dalam proses pengerasan, sehingga butiran-butiran agregat saling terekat dengan kuat sehingga terbentuklah suatu kesatuan yang padat dan tahan lama. Membuat beton sebenarnya tidaklah sederhana hanya sekedar mencampurkan bahanbahan dasarnya untuk membentuk campuran yang plastis sebagaimana sering terlihat pada pembuatan bangunan sederhana. Tetapi jika ingin membuat beton yang baik, dalam arti memenuhi persyaratan yang lebih ketat karena tuntutan yang lebih tinggi, maka harus diperhitungkan dengan seksama caracara memperoleh adukan beton segar yang baik dan menghasilkan beton keras yang baik pula. Beton segar yang baik ialah beton segar yang dapat diaduk, dapat diangkut, dapat dituang, dapat dipadatkan, tidak ada kecenderungan untuk terjadi pemisahan kerikil dari adukan maupun pemisahan air dan semen dari adukan. Beton keras yang baik adalah beton yang kuat, tahan lama, kedap air, tahan aus, dan kembang susutnya kecil. (Tjokrodimulyo 1996:2)
Adapun kriteria-kriteria yang diperlukan untuk menghasilkan beton yang baik, yaitu saat keadaan basah dan mengeras. Pada saat keadaan basah, konsistensi campuran harus diperhatikan sehingga adukan beton dapat dipadatkan dengan mudah. Selain itu, adukan yang cukup kohesif diperlukan untuk ditempatkan sehingga tidak terjadi segregasi (pemisahan kerikil yang berakibat beton menjadi tidak homogen saat mengeras). Di sisi lain, kriteria yang harus diperhatikan pada saat beton sudah mengeras, yaitu kekuatan tekan beton dan durabilitas beton harus sesuai yang diyaratkan.
Beton merupakan salah satu bahan konstruksi yang telah umum digunakan untuk bangunan gedung, jembatan, jalan, dan lain-lain. Beton merupakan satu kesatuan yang homogen. Beton ini didapatkan dengan cara mencampur agregat halus (pasir), agregat kasar (kerikil), atau jenis agregat lain dan air, dengan semen portland atau semen hidrolik yang lain, kadang-kadang dengan bahan tambahan (aditif) yang bersifat kimiawi ataupun fisikal pada perbandingan tertentu, sampai menjadi satu kesatuan yang homogen. Campuran tersebut akan mengeras seperti batuan. Pengerasan terjadi karena peristiwa reaksi kimia antara semen dengan air.
Beton yang sudah mengeras dapat juga dikatakan sebagai batuan tiruan, dengan rongga- rongga antara butiran yang besar (agregat kasar atau batu pecah), dan diisi oleh batuan kecil (agregat halus atau pasir), dan pori-pori antara agregat halus diisi oleh semen dan air (pasta semen). Pasta semen juga berfungsi sebagai perekat atau pengikat dalam proses pengerasan, sehingga butiran-butiran agregat saling terekat dengan kuat sehingga terbentuklah suatu kesatuan yang padat dan tahan lama. Membuat beton sebenarnya tidaklah sederhana hanya sekedar mencampurkan bahanbahan dasarnya untuk membentuk campuran yang plastis sebagaimana sering terlihat pada pembuatan bangunan sederhana. Tetapi jika ingin membuat beton yang baik, dalam arti memenuhi persyaratan yang lebih ketat karena tuntutan yang lebih tinggi, maka harus diperhitungkan dengan seksama caracara memperoleh adukan beton segar yang baik dan menghasilkan beton keras yang baik pula. Beton segar yang baik ialah beton segar yang dapat diaduk, dapat diangkut, dapat dituang, dapat dipadatkan, tidak ada kecenderungan untuk terjadi pemisahan kerikil dari adukan maupun pemisahan air dan semen dari adukan. Beton keras yang baik adalah beton yang kuat, tahan lama, kedap air, tahan aus, dan kembang susutnya kecil. (Tjokrodimulyo 1996:2)
Adapun kriteria-kriteria yang diperlukan untuk menghasilkan beton yang baik, yaitu saat keadaan basah dan mengeras. Pada saat keadaan basah, konsistensi campuran harus diperhatikan sehingga adukan beton dapat dipadatkan dengan mudah. Selain itu, adukan yang cukup kohesif diperlukan untuk ditempatkan sehingga tidak terjadi segregasi (pemisahan kerikil yang berakibat beton menjadi tidak homogen saat mengeras). Di sisi lain, kriteria yang harus diperhatikan pada saat beton sudah mengeras, yaitu kekuatan tekan beton dan durabilitas beton harus sesuai yang diyaratkan.
Kelebihan dan Kekurangan Beton
Beton memiliki kelebihan dan kekurangan antara lain
sebagai berikut,
Kelebihan Beton :
- Beton mampu menahan gaya tekan dengan baik, serta mempunyai sifat tahan terhadap korosi dan pembusukan oleh kondisi lingkungan.
- Beton segar dapat dengan mudah dicetak sesuai dengan keinginan. Cetakan dapat pula dipakai berulang kali sehingga lebih ekonomis.
- Beton segar dapat disemprotkan pada permukaan beton lama yang retak maupun dapat diisikan kedalam retakan beton dalam proses perbaikan.
- Beton segar dapat dipompakan sehingga memungkinkan untuk dituang pada tempat-tempat yang posisinya sulit.
- Beton tahan aus dan tahan bakar, sehingga perawatannya lebih murah.
Kekurangan Beton :
- Beton dianggap tidak mampu menahan gaya tarik, sehingga mudah retak. Oleh karena itu perlu di beri baja tulangan sebagai penahan gaya tarik.
- Beton keras menyusut dan mengembang bila terjadi perubahan suhu, sehingga perlu dibuat dilatasi (expansion joint) untuk mencegah terjadinya retakan-retakan akibat terjadinya perubahan suhu.
- Untuk mendapatkan beton kedap air secara sempurna, harus dilakukan dengan pengerjaan yang teliti.
- Beton bersifat getas (tidak daktail) sehingga harus dihitung dan diteliti secara seksama agar setelah dikompositkan dengan baja tulangan menjadi bersifat daktail, terutama pada struktur tahan gempa.
Sifat dan Karakteristik Beton
Beton memiliki
sifat-sifat mekanik yang didapat dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Berikut beberapa
sifat mekanik beton, yaitu:
· Kekuatan tekan
Kekuatan tekan beton
dijadikan acuan dalam perencanaan campuran beton. Kekuatan tekan ditentukan
berdasarkan tes benda uji silinder beton berukuran 15 x 30 cm yang berumur 28
hari. Kekuatan tekan beton dipengaruhi perbandingan air-semen, tipe semen, admixture, agregat, kelembapan selama curing, temperatur selama curing, umur beton, dan kecepatan
pembebanan.
· Modulus Elistisitas
Modulus elistisitas
beton adalah konstanta elastis dari material beton yang besarnya dapat
ditentukan dari kurva hubungan tegangan-regangan yang merupakan kemiringan atau
tangen dari kurva tersebut. Modulus elistisitas yang tinggi berarti kekakuan
beton tersebut tinggi, sedangkan modulus elastisitas yang rendah berarti beton
tersebut bersifat lebih daktail. Modulus elastisitas beton bervariasi antara
20.000 sampai 30.000 MPa, tergantung dari kuat tekannya. Modulus elastisitas
juga dipengaruhi oleh karakteristik bahan penyusunnya terutama modulus
elastisitas dari agregat kasarnya.
· Kekuatan tarik
Kekuatan tarik beton
bervariasi antara 8% sampai 15% dari kekuatan tekannya.
·
Susut (Shrinkage)
Susut merupakan
penurunan volume pada beton yang tidak berhubungan dengan beban. Tingkat susut
pada beton berbanding lurus dengan perbandingan air-semennya dan berbanding
terbalik dengan ukuran agregat kasarnya. Susut terjadi pada waktu yang lama,
tapi kemungkinan besar terjadi pada tahun pertama. Besarnya susut tergantung
kepada komposisi beton. Pembasahan permukaan beton selama proses pengeringan (curing) dapat mengurangi susut.
·
Rangkak (Creep)
Rangkak merupakan peningkatan regangan
dengan bertambahnya waktu pada kondisi tegangan yang konstan. Rangkak terjadi
dalam jangka panjang yang kemungkinan besar terjadi pada tahun pertama.
Pada saat beton
masih basah, beton memiliki beberapa sifat dan karakteristik tertentu, sebagai
berikut:
·
Workabilitas
Merupakan ukuran
kemudahan suatu adukan beton ditempatkan pada cetakannya. Faktor-faktor yang
harus dipikirkan pada pemilihan workabilitas adalah, sebagai berikut:
o
Bentuk dan ukuran
elemen struktural.
o
Jarak penulangan.
o
Detail lainnya yang
berhubungan dengan pengecoran dan pemadatan.
Kemudahan pengerjaan
beton dapat dilihat dari nilai slumpnya. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi
workabilitas, yaitu kandungan air, ukuran agregat dan gradasinya, perbandingan
semen dan agregat, kandungan admixture, dan kehalusan semen.
·
Konsistensi
Konsistensi adalah
ukuran kekenyalan suatu adukan beton. Metode yang biasanya dipakai untuk
mengukur konsistensi adalah pengujian slump.
·
Slump
Slump adalah perbedaan
ketinggian adukan beton pada cetakan yang berbentuk kerucut terpancung dan
ketinggian adukan beton setelah dilepaskan dari cetakan kerucut tersebut. Slump
biasanya digunakan sebagai ukuran workabilitas, tapi hubungan ini tidak mutlak.
·
Segregasi
Segregasi didefinisikan
sebagai pemisahan komponen-komponen dari campuran beton yang heterogen,
sehingga distribusinya tidak merata lagi. Penyebab utama segregasi adalah
perbedaan ukuran partikel dan spesifik gravity dari komponen campuran beton.
Segregasi sampai tingkat tertentu dapat dikontrol dengan pemilihan gradasi yang
sesuai. Campuran beton yang tidak mudah mengalami segregasi dikatakan sebagai
campuran yang kohesif. Kemudahan pengerjaan adukan beton, sedikit banyak
ditentukan oleh tingkat segregasinya, campuran beton dengan tingkat segregasi
tinggi tidak mungkin bisa dipadatkan.
·
Bleeding
Bleeding merupakan suatu bentuk
segregasidimana sebagian air campuran naik ke permukaan beton yang baru dicor.
Akibat yang merugikan dari bleeding adalah timbulnya zona lekatan yang lemah antara
agregat kasar dengan mortar semen disebabkan sebagian air yang naik ke
permukaan terperangkap pada sisi bagian bawah dari agregat kasar atau tulangan.
Adapun saat
beton telah mengeras, beton memiliki beberapa sifat dan karakteristik sebagai
berikut:
·
Permeabilitas
Permeabilitas merupakan
properti beton yang sukar diukur, tapi memegang peranan penting untuk
durabilitas beton di lingkungan yang korosif. Permeabilitas pada beton dapat
didefinisikan sebagai kemudahan transport dari zat cair atau cairan (baik yang
mengandung gas-gas atau ion-ion agresif maupun yang tidak) ke dalam beton.
Permeabilitas dipengaruhi oleh struktur pori beton dan struktur zona transisi
yaitu zona antara agregat kasar dan pasta semen (interface zone). Ukuran jumlah total volume pori beton dinyatakan
dengan porositas, beton dengan porositas yang tinggi belum tentu memiliki
permeabilitas yang tinggi. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi permeabilitas
adalah perbandingan air semen, ukuran agregat, dan praktek pengerjaan beton.
Permeabilitas dapat diminimalkan dengan pembuatan mix desain dengan
perbandingan air semen yang rendah, penggunaan agregat yang memiliki
karakteristik permukaan yang mempunyai daya ikat yang baik, serta praktek
pengerjaan beton yang baik.
·
Curing
Agar kuat tekan rencana
tercapai, agar beton memiliki permeabilitas yang rendah dan agar beton durabel
maka harus dilakukan metoda curing yang sesuai. Curing adalah proses perawatan
beton setelah beton mencapai final setting. Curing dilakukan agar proses
hidrasi tidak mengalami gangguan dengan cara menjaga beton tetap lembab dalam
durasi waktu tertentu.
·
Konsolidasi
Konsolodasi atau
pemadatan adalah proses eliminasi gelembung udara yang terperangkap dalam beton
segar. Konsolidasi dilakukan segera setelah beton dituang ke dalam cetakan,
sebelum initial setting. Untuk volume pengecoran yang besar, pemadatan
dilakukan dengan bantuan alat penggetar. Penggetaran ini dilakukan untuk
mendapatkan distribusi bahan yang homogen.
2. Baja
Baja
adalah logam paduan, logam besi sebagai unsur dasar dengan beberapa elemen
lainnya, termasuk karbon. Kandungan unsur karbon dalam baja berkisar antara
0.2% hingga 2.1% berat sesuai grade-nya. Elemen berikut ini selalu ada dalam
baja: karbon, mangan, fosfor, sulfur, silikon, dan sebagian kecil oksigen,
nitrogen dan aluminium. Selain itu, ada elemen lain yang ditambahkan untuk
membedakan karakteristik antara beberapa jenis baja diantaranya: mangan, nikel,
krom, molybdenum, boron, titanium, vanadium dan niobium. Dengan memvariasikan
kandungan karbon dan unsur paduan lainnya, berbagai jenis kualitas baja bisa
didapatkan. Fungsi karbon dalam baja adalah sebagai unsur pengeras dengan
mencegah dislokasi bergeser pada kisi kristal (crystal lattice) atom besi. Baja karbon ini dikenal sebagai baja
hitam karena berwarna hitam, banyak digunakan untuk peralatan pertanian
misalnya sabit dan cangkul.
Penambahan
kandungan karbon pada baja dapat meningkatkan kekerasan (hardness) dan kekuatan tariknya (tensile strength), namun di sisi lain membuatnya menjadi getas (brittle) serta menurunkan keuletannya (ductility). Meskipun baja sebelumnya
telah diproduksi oleh pandai besi selama ribuan tahun, penggunaannya menjadi
semakin bertambah ketika metode produksi yang lebih efisien ditemukan pada abad
ke-17. Dengan penemuan proses Bessemer di pertengahan abad ke-19, baja menjadi
material produksi massal yang membuat harga produksinya menjadi lebih murah.
Saat ini, baja merupakan salah satu material paling umum di dunia, dengan
produksi lebih dari 1,3 miliar ton tiap tahunnya. Baja merupakan komponen utama
pada bangunan, infrastruktur, kapal, mobil, mesin, perkakas, dan senjata. Baja
modern secara umum diklasifikasikan berdasarkan kualitasnya oleh beberapa
lembaga-lembaga standar.
Uji Tarik Baja
Pengujian tarik yaitu pengujian
yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang sifat-sifat dan keadaan dari
suatu logam. sifat-sifat mekanik dari
material tersebut seperti
Modulus Young, tegangan
leleh, dan kuat
tarik. Selain itu,
uji tarik ini
dapat digunakan untuk mengamati proses perubahan geometri (deformasi)
pada material baja akibat gaya tarik, yang ditunjukkan oleh peristiwa elongasi
dan kontraksi penampang. Pada uji tarik, benda uji diberi beban gaya tarik
sesumbu yang bertambah secara kontinyu, bersamaan dengan itu dilakukan
pengamatan terhadap perpanjangan yang dialami benda uji.
a.
Tegangan/Stress (σ)
Tegangan
yang dipergunakan pada kurva adalah tegangan membujur rata-rata dari pengujian
tarik yang diperoleh dengan membagi beban dengan luas awal penampang melintang
benda uji.
b.
Regangan/Strain (ε)
Regangan
(ε) adalah perbandingan pertambahan panjang dengan panjang awal benda uji. Regangan
yang digunakan untuk kurva tegangan regangan rekayasa adalah regangan linier
rata-rata,yang diperoleh dengan membagi perpanjangan panjang ukur (gage length)
benda uji,ΔL,dengan panjang awalnya, L0.
c.
Modulus Young (E)
Modulus
Young, disebut juga dengan modulus tarik adalah ukuran kekakuan suatu bahan
elastis yang merupakan ciri dari suatu bahan, makin besar
nilai Modulus Young,
maka makin tidak
elastic suatu bahan.
Modulus Young dapat dinyatakan
dengan kemiringan garis
(daerah elastis) pada
kurva tegangan-regangan.
d.
Tegangan Leleh/Yield Stress (σy)
Tegangan leleh
adalah besarnya gaya
tarik yang bekerja
pada saat benda
uji mengalami leleh pertama dibagi dengan luas penampang.
Nilai
regangan leleh bisa didapatkan dengan cara menarik garis offset 0.2% terhadap
kondisi elastis pada kurva tegangan-regangan.
e.
Kuat Tarik/Ultimate Stress (σmaks)
Kekuatan
tarik adalah tegangan maksimum yang bisa ditahan oleh sebuah bahan ketika
diregangkan atau ditarik, sebelum bahan tersebut patah. Kekuatan tarik adalah
kebalikan dari kekuatan tekan, dan nilainya bisa berbeda. Kuat tarik adalah
tegangan tarik maksimum yang didapat dari gaya maksimum dibagi dengan luas
penampang semula dari benda uji
Nilai
regangan ultimate bisa didapatkan dengan cara menarik garis tegak lurus sumbu
vertical pada kurva tegangan-regangan ketika
kondisi sesaat sebelum
terjadinya necking
Walaupun
struktur fly over sebagian besar hanya terdiri dari beton dan baja,
namun dalam proses pembuatan beton dan baja itu sendiri tidaklah
sederhana. Diperlukan kajian yang mendalam mengenai karakteristik beton
yang diperlukan. Demikian pula dengan baja, selain sebagai struktur pada
pilar, baja juga digunakan sebagai cable stayed pada jembatan layang
sehingga jembatan tetap kokoh. Dalam pembuatan cable stayed ini juga
tidak sembarangan dan memiliki beberapa metode tertentu, disesuaikan
dengan kondisi rancangan kekuatan jembatan layang itu sendiri.
Demikian tulisan ini saya buat, semoga bermanfaat.
Pustaka :
http://eprints.undip.ac.id/34345/6/2178_CHAPTER_II.pdf
http://eprints.undip.ac.id/34345/6/2178_CHAPTER_II.pdf
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/28303/4/Chapter%20II.pdf
http://eprints.polsri.ac.id/1194/3/BAB%20II.pdf
Komentar
Posting Komentar