Laporan Praktikum Pekan ke-1 dan ke-2
Kelompok 5 - Uji Parameter Bahan Penyusun Beton
Pada hari Kamis, 29 September 2016 dan Kamis, 6 Oktober 2016
kami melaksanakan rangkaian praktikum
dari mata kuliah Bahan Bangunan Laut. Praktikum yang dilaksanakan di hari
itu merupakan praktikum yang ditujukan untuk menguji parameter
bahan-bahan penyusun beton, diantaranya adalah sebagai berikut.
1. Pemeriksaan Kadar Air Agregat
1.1
Tujuan
Praktikum
Menghitung besarnya kadar air yang
terkandung dalam agregat
1.2
Alat
dan Bahan Praktikum
a.
Timbangan dengan ketelitian 0,1% dari
berat contoh
b.
Oven suhunya dapat diatur sampai (110±5)á´¼
C
c.
Talam logam tahan karat berkapasitas
cukup besar bagi tempat pengeringan benda uji.
d.
Benda uji (contoh agregat) dengan
diameter maksimum 5 mm dan berat minimum 0,5 kg
1.3 Prosedur Praktikum
a.
Menimbang dan mencatat berat talam (W1)
b.
Memasukkan benda uji ke dalam talam,
kemudian berat talam + benda uji ditimbang dan dicatat (W2)
c.
Menghitung berat benda uji W3=W2-W1
d.
Mengeringkan contoh benda uji bersama
talam dalam oven pada suhu (110±5)á´¼ C hingga beratnya tetap
e.
Setelah kering contoh ditimbang dan
dicatat berat benda uji beserta talam (W4)
f.
Menghitung berat benda uji kering
W5=W4-W1
1.4
Hasil
Pemeriksaan Kadar Air
Tabel 1 Hasil Pemeriksaan Kadar Air Agregat
Observasi I (Kelompok
5)
|
||||||||
Halus
|
Kasar
|
|||||||
A.
Berat wadah = 676 gram
|
676 gram
|
|||||||
B.
Berat Wadah + Benda Uji = 2676 gram
|
2676 gram
|
|||||||
C.
Berat benda uji (B-A) = 2000 gram
|
2000 gram
|
|||||||
D.
Berat benda uji=1804 gram
|
1870 gram
|
|||||||
Kadar
air = 10,86%
|
6,95% (KA1)
|
|||||||
Observasi II
(Kelompok I)
|
||||||||
Halus
|
Kasar
|
|||||||
A.
Berat wadah = 177 gram
|
177 gram
|
|||||||
B.
Berat Wadah + Benda Uji = 2177 gram
|
2177 gram
|
|||||||
C.
Berat benda uji (B-A) = 2000 gram
|
2000 gram
|
|||||||
D.
Berat benda uji = 1626 gram
|
1693 gram
|
|||||||
Kadar
Air
|
=
|
23,00
|
%
|
18,13 %
|
(KA2)
|
|||
Kadar
air rata-rata
|
=
|
16,93
|
%
|
12,54 %
|
||||
1.5
Analisis
Berdasarkan data hasil percobaan,
dapat diketahui bahwa berat benda uji yang telah melewati proses pengeringan
dengan oven memiliki berat yang lebih ringan daripada berat benda uji sebelum
melewati proses pengeringan dengan oven. Hal ini disebabkan benda uji sebelum
melewati proses pengeringan memiliki kandungan air sehingga mempengaruhi berat
benda uji. Jika penulis menganalisa dari besar nilai persentase kadar air, nilai
persentase kadar air pada agregat halus lebih besar daripada nilai persentase
kadar air pada agregat kasar. Hal ini disebabkan dalam ukuran volume yang sama,
jumlah agregat halus lebih banyak daripada jumlah agregat kasar. Dengan
demikian, secara umum, luas permukaan agregat halus lebih besar dibandingkan
agregat kasar sehingga kandungan air pada agregat halus lebih banyak
dibandingkan pada agregat kasar.
2
Pemeriksaan Berat Volume Agregat
Halus
2.1 Tujuan Praktikum
Menghitung berat volume
agregat halusa
2.2
Alat
dan Bahan Praktikum
a.
Timbangan dengan ketelitian 0,1% dari
berat contoh
b.
Talam kapasitas cukup besar untuk
mengeringkan contoh agregat
c.
Tongkat pemadat diameter 15 mm, panjang
60 cm yang ujungnya bulat, terbuat dari baja tahan karat
d.
Mistar perata
e.
Sekop
f.
Wadah baja yang cukup berbentuk silinder
dengan alat pemegamg sesuai dengan tabel .
Tabel 3.2 Spesifikasi
Wadah Baja
Kapasitas
|
Diameter
|
Tinggi
|
Tebal Wadah
|
Ukuran Butir Maksimum Agregat (mm)
|
||
Dasar
|
Sisi
|
|||||
2,832
|
152,4±2,5
|
154,9±2,5
|
5,08
|
2,54
|
12,70
|
|
9,345
|
203,2±2,5
|
292,1±2,5
|
5,08
|
2,54
|
25,40
|
|
14,158
|
254,0±2,5
|
279,4±2,5
|
5,08
|
3,00
|
38,10
|
|
28,316
|
355,6±2,5
|
284,4±2,5
|
5,08
|
3,00
|
101,60
|
|
g.
Benda uji berupa agregat halus
2.3
Prosedur
Praktikum
·
Berat isi lepas
a. Menimbang
dan mencatat berat wadah (W1)
b. Memasukkan
benda uji dengan hati-hati agar tidak terjadi pemisahan butir-butir dari
ketinggian 5 cm di atas wadah dengan menggunakan sendok atau sekop sampai penuh
c. Meratakan
permukaan benda uji dengan menggunakan mistar perata
d. Menimbang
dan mencatat berat wadah beserta benda uji (W2)
e. Menghitung
berat benda uji (W3=W2-W1)
· Berat
isi agregat ukuran butir maksimum 38,1 mm (1,5”) dengan cara penusukan
a. Menimbang
dan mencatat berat wadah (W1)
b. Mengisi
wadah dengan benda uji dalam tiga lapis yang sama tebal. Setiap lapis
dipadatkan dengan tongkat pemadat yang ditusukkan sebanyak 25 kali secara
merata
d. Menimbang
dan mencatat berat wadah beserta benda uji (W2)
e. Menghitung
berat benda uji (W3=W2-W1)
·
Berat isi pada agregat ukuran butir
antara 38,1 mm (1,5”) sampai 101,1 mm (4”) dengan cara penggoyangan
a.
Menimbang dan mencatat berat wadah (W1)
b.
Mengisi wadah dengan benda uji dalam
tiga lapis yang sama tebal
c.
Memadatkan setiap lapis dengan cara
menggoyang-goyangkan wadah dengan prosedur sebagai berikut:
- Meletakkan
wadah di atas tempat yang kokoh dan datar, diangkat salah satu sisinya
kira-kira setinggi 5 cm kemudian dilepaskan.
- Mengulanginya
pada sisi yang berlawanan. Dipadatkan sebanyak 25 kali untuk setiap sisi
d.
Meratakan permukaan benda uji dengan
menggunakan mistar perata
e.
Menimbang dan mencatat berat wadah
beserta benda uji (W2)Menghitung berat benda uji (W3=W2-W1)
2.4
Hasil
Pemeriksaan Berat Volume
Tabel
3.3 Hasil Pemeriksaan Berat Volume Agregat
Observasi
I
|
||||||||
KELOMPOK 5
|
Padat
|
Gembur
|
||||||
A.Volume Wadah
|
= 2,781 Ltr
|
= 2,781 Ltr
|
||||||
B. Berat Wadah
|
= 2,676 kg
|
= 2,676 kg
|
||||||
C.
Berat
Wadah + Benda Uji
|
= 6,944 kg
|
= 6,655 kg
|
||||||
D. Berat Benda Uji
(C-B)
|
= 4,268 kg
|
= 3,979 kg
|
||||||
Berat Volume D/A
|
=1,534kg/L
|
= 1430 kg/L
|
||||||
Observasi II
|
||||||||
KELOMPOK 1
|
Padat
|
Gembur
|
||||||
Volume Wadah
|
= 2,781 Ltr
|
= 2,781 Ltr
|
||||||
Berat Wadah
|
= 2,676 kg
|
= 2,676 kg
|
||||||
Berat Wadah + Benda
Uji
|
= 6,972 kg
|
= 6,638 kg
|
||||||
Berat Benda Uji (C-B)
|
= 4,296 kg
|
= 3, 962 kg
|
||||||
Berat Volume D/A
|
=1,54 kg/L
|
= 1, 42 kg/L
|
||||||
Berat Volume
Rata-Rata
|
Padat
|
Gembur
|
||||||
1,537 kg/L
|
1,425 kg/L
|
|||||||
Berdasarkan
data hasil percobaan, dapat diketahui bahwa nilai berat volume agregat halus
dalam kondisi padat lebih besar dibandingkan nilai berat volume agregat halus
dalam kondisi gembur. Hal ini disebabkan adanya perbedaan perlakuan terhadap
dua kondisi tersebut. Untuk mencapai kondisi padat, sebelumnya telah dilakukan
penumbukan sebanyak 25 kali. Perlakuan ini tentu menyebabkan pori-pori/celah
antar agregat halus memadat sehingga jumlah agregat halus pada wadah semakin
banyak dan meningkatkan besar berat benda uji. Sedangkan pada agregat halus
dalam kondisi gembur tidak dilakukan penumbukan sama sekali sehingga celah
kosong diantara agregat halus lebih banyak dibanding agregat halus dalam
kondisi padat. Kondisi gembur ini menyebabkan berat jenis agregat pada keadaan
gembur menjadi lebih kecil karena besar berat benda uji yang kecil.
3
Pemeriksaan Berat Volume Agregat Kasar
3.1 Tujuan
Praktikum
Menghitung
berat volume agregat kasar
3.2 Alat
dan Bahan Praktikum
a. Timbangan
dengan ketelitian 0,1% dari berat contoh
b. Talam
kapasitas cukup besar untuk mengeringkan contoh agregat
c. Tongkat
pemadat diameter 15 mm, panjang 60 cm yang ujungnya bulat, terbuat dari baja
tahan karat
d. Mistar
perata
e. Sekop
f. Wadah
baja yang cukup berbentuk silinder dengan alat pemegamg sesuai dengan tabel
Tebal
Wadah
|
Ukuran
|
|||||
Butir
|
||||||
Kapasitas
|
Diameter
|
Tinggi
|
Maksimum
|
|||
Dasar
|
Sisi
|
Agregat
|
||||
(mm)
|
||||||
2,832
|
152,4±2,5
|
154,9±2,5
|
5,08
|
2,54
|
12,70
|
|
9,345
|
203,2±2,5
|
292,1±2,5
|
5,08
|
2,54
|
25,40
|
|
14,158
|
254,0±2,5
|
279,4±2,5
|
5,08
|
3,00
|
38,10
|
|
28,316
|
355,6±2,5
|
284,4±2,5
|
5,08
|
3,00
|
101,60
|
|
g. Benda
uji berupa agregat kasar
3.3
Prosedur Praktikum
1. Menimbang dan mencatat berat wadah (W1)
2. Memasukkan benda uji dengan hati-hati agar
tidak terjadi pemisahan butir-butir dari ketinggian 5 cm di atas wadah dengan
menggunakan sendok atau sekop sampai penuh
3. Meratakan permukaan benda uji dengan
menggunakan mistar perata
4.
Menimbang dan mencatat berat wadah
beserta benda uji (W2)
5. Menghitung berat benda uji (W3=W2-W1)
Berat isi agregat
ukuran butir maksimum 38,1 mm (1,5”) dengan cara penusukan
1. Menimbang
dan mencatat berat wadah (W1)
2. Mengisi
wadah dengan benda uji dalam tiga lapis yang sama tebal. Setiap lapis
dipadatkan dengan tongkat pemadat yang ditusukkan sebanyak 25 kali secara
merata
3. Meratakan
permukaan benda uji dengan menggunakan mistar perata
4. Menimbang
dan mencatat berat wadah beserta benda uji (W2)
5. Menghitung
berat benda uji (W3=W2-W1)
·
Berat isi pada agregat ukuran butir
antara 38,1 mm (1,5”) sampai 101,1 mm (4”) dengan cara penggoyangan
1.
Menimbang dan mencatat berat wadah (W1)
3.
Memadatkan setiap lapis dengan cara
menggoyang-goyangkan wadah dengan prosedur sebagai berikut:
o Meletakkan wadah di
atas tempat yang kokoh dan datar, diangkat salah satu sisinya kira-kira
setinggi 5 cm kemudian dilepaskan
o Mengulanginya pada
sisi yang berlawanan. Dipadatkan sebanyak 25 kali untuk setiap sisi
4.
Meratakan permukaan benda uji dengan menggunakan
mistar perata
5.
Menimbang dan mencatat berat wadah
beserta benda uji (W2)
6.
Menghitung berat benda uji (W3=W2-W1)
3.4 Hasil
Pemeriksaan Berat Volume
Tabel 3.3 Hasil Pemeriksaan Berat Volume
Agregat
Observasi I
|
|||||||
KELOMPOK 5
|
Padat
|
Gembur
|
|||||
A.Volume Wadah
|
= 2,781 kg
|
= 2,781 Ltr
|
|||||
B. Berat Wadah
|
= 2,676 kg
|
= 2,676 kg
|
|||||
C. Berat Wadah +
Benda
|
= 6,571 kg
|
= 6,223 kg
|
|||||
Uji
|
|||||||
D. Berat Benda Uji
(C-B)
|
= 3,895 kg
|
= 3,547 kg
|
|||||
Berat Volume D/A
|
= 1,400 kg/L
|
= 1,275 kg/L
|
|||||
Observasi II
|
|||||||
KELOMPOK 1
|
Padat
|
Gembur
|
|||||
Volume Wadah
|
= 2,781 Ltr
|
= 2,781 Ltr
|
|||||
Berat Wadah
|
= 2,676 kg
|
= 2,676 kg
|
|||||
Berat Wadah + Benda
Uji
|
= 6,615 kg
|
= 6,191 kg
|
|||||
Berat Benda Uji (C-B)
|
= 3,94 kg
|
= 3.515 kg
|
|||||
Berat Volume D/A
|
1,42 kg/L
|
= 1,26 kg/L
|
|||||
Berat Volume
Rata-Rata
|
Padat
|
Gembur
|
|||||
1,41 kg/L
|
1,2675 kg/L
|
||||||
3.5 Analisis
Berdasarkan data hasil percobaan, dapat diketahui
bahwa nilai berat volume agregat kasar dalam kondisi padat lebih besar
dibandingkan nilai berat volume agregat kasar dalam kondisi gembur. Hal ini
disebabkan adanya perbedaan perlakuan terhadap dua kondisi tersebut. Untuk
mencapai kondisi padat, sebelumnya telah dilakukan penumbukan sebanyak 25 kali.
Perlakuan ini tentu menyebabkan pori-pori/celah antar agregat kasar memadat
sehingga jumlah agregat kasar pada wadah semakin banyak dan meningkatkan besar
berat benda uji. Sedangkan pada agregat kasar dalam kondisi gembur tidak
dilakukan penumbukan sama sekali sehingga celah kosong diantara agregat kasar
lebih banyak dibanding agregat kasar dalam kondisi padat. Kondisi gembur ini
menyebabkan berat jenis agregat pada keadaan gembur menjadi lebih kecil karena
besar berat benda uji yang kecil.
4
Analisis Specific Gravity dan Penyerapan Agregat Halus
4.1 Tujuan
Praktikum
Menghitung
specific gravity dan penyerapan agregat halus
4.2 Alat
dan Bahan Praktikum
1.
Timbangan dengan ketelitian 0,1 gram
atau kurang yang mempunyai kapasitas minimum sebesar 1000 gram atau lebih
2.
Piknometer dengan kapasitas 500 gram
4.
Tongkat pemadat dari logam untuk cetakan
kerucut pasir
4.3
Prosedur Praktikum
1. Agregat
halus yang jenuh air dikeringkan sampai diperoleh kondisi kering dengan
indikasi contoh tercurah dengan baik
2. Sebagian
dari contoh dimasukkan dalam metal sand cone mold. Benda uji dipadatkan
dengan tongkat pemadat (tamper). Jumlah tumbukan adalah 25 kali. Kondisi SSD
diperoleh jika cetakan diangkat, butir-butir pasir longsor/runtuh.
3. Contoh
agregat halus sebesar 500 gram dimasukkan kedalam piknometer. Kemudian
piknometer diisi dengan air sampai 90% penuh. Membebaskan gelembung-gelembung
udara dengan cara menggoyang-goyangkan piknometer, lalu merendam piknometer
dengan suhu air (73,4±3)á´¼F selama 24 jam. Kemudian menimbang piknometer yang
berisi contoh dengan air
4. Memisahkan
benda uji dari piknometer dan mengeringkan benda uji pada suhu (213±130)á´¼F.
Langkah ini diselesaikan dalam waktu 24 jam (1 hari)
5. Menimbang
berat piknometer yang berisi air sesuai dengan kapasitas kalibrasi pada
temperatur (73,4±3)á´¼F dengan ketelitian 0,1 gram
4.4
Hasil
Analisis Specific Gravity dan Penyerapan Agregat Halus
Tabel 3. 4 Analisis Spesific Gravity dan Penyerapan Agregat Halus I
Observasi
I
|
|
A. Berat Piknometer
|
173 gram
|
B. Berat Contoh Kondisi SSD
|
500 gram
|
C. Berat Piknometer + Air +
Contoh SSD
|
956 gram
|
D. Berat Piknometer + Air
|
669 gram
|
E. Berat Contoh Kering
|
476 gram
|
Apparent
Specific Gravity E / (E+D-C)
|
2,54
|
Bulk
Specific Gravity Kondisi Kering
E / (B+D-C)
|
2,22
|
Bulk
Specific Gravity Kondisi SSD
B / (B+D-C)
|
2,35
|
Persentase absorpsi
(B-E) / E x 100%
|
5,5%
|
Tabel 3. 5Analisis Spesific Gravity dan Penyerapan Agregat Halus II
Observasi
II
|
|
A. Berat Piknometer
|
172 gram
|
B. Berat Contoh Kondisi SSD
|
500 gram
|
C. Berat Piknometer + Air +
Contoh SSD
|
955 gram
|
D. Berat Piknometer + Air
|
669 gram
|
E. Berat Contoh Kering
|
476 gram
|
Apparent
Specific Gravity E / (E+D-C)
|
2,505
|
Bulk
Specific Gravity Kondisi Kering
E / (B+D-C)
|
2,224
|
Bulk
Specific Gravity Kondisi SSD
B / (B+D-C)
|
2,336
|
Persentase absorpsi
(B-E) / E x 100%
|
5,04%
|
Tabel 3. 6 Analisis Spesific Gravity dan Penyerapan Agregat Halus
Rata-Rata
Rata-Rata
|
|
Apparent
Specific Gravity
|
2,552
|
Bulk
Specific Gravity Kondisi Kering
|
2,222
|
Bulk
Specific Gravity Kondisi SSD
|
2,343
|
Persentase absorpsi
|
5,571%
|
4.5 Analisis
Berdasarkan
hasil percobaan, persentase absorpsi air dapat diperoleh dengan menghitung
selisih berat benda uji dalam keadaan SSD dan keadaan kering yang kemudian
dibandingkan terhadap berat benda uji dalam keadaan kering. Angka persentase
absorpsi air ini nantinya akan digunakan sebagai pedoman saat melakukan mix design. Semakin besar persentase
absorpsi, semakin banyak air yang perlu untuk ditambahkan.
5
Analisis Specific Gravity dan Penyerapan Agregat Kasar
5.1
Tujuan
Praktikum
Menghitung
specific gravity dan penyerapan agregat kasar
5.2
Alat
dan Bahan Praktikum
a. Timbangan
dengan ketelitian 0,5 gram yang mempunyai kapasitas 5 kg
b. Keranjang
besi diameter 203,2 mm (8”) dan tinggi63,5 mm (2,5”)
c. Alat
penggantung keranjang
d. Handuk
atau kain pel
5.3
Prosedur
Praktikum
1. Benda
uji direndam selama 24 jam
2. Benda
uji dikeringkan permukaannya (kondisi SSD) dengan menggulungkan handuk pada
butiran
3. Timbang
contoh dan hitung berat contoh kondisi SSD sebagai A.
4. Contoh
benda uji dimasukkan ke keranjang dan direndam kembali di dalam air. Temperatur
air dijaga (73,4±3)oF dan kemudian ditimbang. Setelah itu, keranjang
digoyang-goyangkan di dalam air untuk melepaskan udara yang terperangkap.
Hitung berat contoh kondisi jenuh sebagai B.
5. Contoh
dikeringkan pada temperatur (212-130)oF. Setelah didinginkan, contoh
kemudian ditimbang. Hitung berat contoh kondisi kering sebagai C.
5.4
Hasil
Analisis Specific Gravity dan Penyerapan Agregat Kasar
Tabel 3. 7 Analisis Spesific Gravity dan Penyerapan Agregat Kasar I
Observasi
I
|
||
A. Berat Contoh SSD
|
2855 gram
|
|
B. Berat Contoh dalam Air
|
1718 gram
|
|
C. Berat Contoh Kering Udara
|
2689 gram
|
|
Apparent
Specific Gravity
|
C / (C-B)
|
2,77
|
Bulk
Specific Gravity Kondisi Kering
|
C / (A-B)
|
2,36
|
Bulk
Specific Gravity Kondisi SSD
|
A / (A-B)
|
2,51
|
Persentase absorpsi
|
(A-C) / C x 100%
|
6,17%
|
Tabel 3. 8 Analisis Spesific Gravity dan Penyerapan Agregat Kasar II
Observasi
II
|
||
A. Berat Contoh SSD
|
2952 gram
|
|
B. Berat Contoh dalam Air
|
1769 gram
|
|
C. Berat Contoh Kering Udara
|
2759 gram
|
|
Apparent
Specific Gravity
|
C / (C-B)
|
2,787
|
Bulk
Specific Gravity Kondisi Kering
|
C / (A-B)
|
2,332
|
Bulk
Specific Gravity Kondisi SSD
|
A / (A-B)
|
2,495
|
Persentase absorpsi
|
(A-C) / C x 100%
|
6,995%
|
Tabel 3. 9 Analisis Spesific Gravity dan Penyerapan Agregat Kasar
Rata-Rata
Rata-Rata
|
|
Apparent
Specific Gravity
|
2,78
|
Bulk
Specific Gravity Kondisi Kering
|
2,34
|
Bulk
Specific Gravity Kondisi SSD
|
2,50
|
Persentase absorpsi
|
6,58%
|
5.5 Analisis
Berdasarkan
data hasil percobaan, terdapat dua kondisi yaitu kondisi SSD dan kondisi
kering. Kondisi SSD (Surface Saturated
Dry) adalah kondisi saat permukaan luar agregat dalam keadaan kering namun
bagian dalam rongga-rongga agregat masih memiliki kandungan air. Kondisi kering
adalah kondisi agregat setelah melewati proses pemanasan dalam oven hingga
bagian permukaan dan bagian dalam rongga agregat kering. Untuk menentukan
kondisi kering ideal suatu agregat, perlu ditentukan terlebih dahulu persentase
absorpsi air dari agregat. Kondisi agregat yang biasa digunakan adalah kondisi
SSD, sehingga dengan mengetahui persentase absorpsi air dari agregat dengan
kondisi tersebut, selanjutnya akan mudah untuk menentukan jumlah air yang perlu
ditambahkan saat melakukan mix design.
6
Analisis Saringan Agregat Halus
6.1 Tujuan
Praktikum
Menentukan distribusi ukuran partikel
dari agregat halus dengan uji saringan
6.2 Alat
dan Bahan Praktikum
a. Timbangan
dan neraca dengan ketelitian 0,2% dari berat benda uji
b. Satu
set saringan dengan ukuran:
Tabel
3. 10 Spesifikasi Saringan
Nomor Saringan
|
Ukuran Lubang
|
Keterangan
|
|
Mm
|
Inchi
|
||
-
|
9,5
|
3/8
|
Perangkat saringan untuk
agregat halus. berat minimum contoh 500 gram
|
No.4
|
4,75
|
-
|
|
No.6
|
2,36
|
-
|
|
No.16
|
1,18
|
-
|
|
No.30
|
0,60
|
-
|
|
No.50
|
0,003
|
-
|
|
No.100
|
0,150
|
-
|
|
No.200
|
0,075
|
-
|
|
c. Oven
yang dilengkapi pengatur suhu untuk pemanasan sampai (110±5)á´¼C
d. Alat
pemisah contoh
e. Mesin
penggetar saringan
f. Talam-talam
g. Kuas,
sikat kawat, sendok, dan alat-alat lainnya
h. Benda
uji diperoleh dari alat pemisah contoh atau dengan cara perempatan. Berat dari
contoh disesuaikan dengan ukuran maksimum diameter agregat kasar yang digunakan
pada tabel perangkat saringan
1.
Mengeringkan agregat sampel tes dengan
berat yang telah ditentukan pada temperatur 110±5á´¼C, kemudian didinginkan pada
temperatur ruangan
2.
Menimbang kembali berat sampel agregat
yang digunakan
3.
Mempersiapkan saringan yang akan
digunakan
4.
Meletakkan sampel agregat di atas
saringan setelah saringan disusun
5.
Menggoyangkan saringan dengan
tangan/mesin
6.
Menhitung berat agregat pada
masing-masing nomor saringan
7.
Total berat agregat setelah dilakukan
saringan dibandingkan dengan berat semula. Jika perbedaannya lebih dari 0,3%
dari berat semula sampel agregat yang digunakan hasilnya tidak dapat digunakan
6.4
Hasil
Analisis Saringan Agregat Halus
Tabel 3.11 Hasil Analisis
Saringan Agregat Halus
Ukuran
Saringan (mm)
|
Berat
Tertahan (gr)
|
Persentase
Tertahan
|
Persentase
Tertahan Kumulatif
|
Persentase
Lolos Kumulatif
|
SPEC
ASTM C33-90
|
9,5
|
1
|
0,20%
|
0,20%
|
99,80%
|
100
|
4,75
|
1
|
0,20%
|
0,40%
|
99,60%
|
95-100
|
2,36
|
76
|
15,20%
|
15,60%
|
84,40%
|
80-100
|
1,18
|
156
|
31,20%
|
46,80%
|
53,20%
|
50-85
|
0,6
|
167
|
33,40%
|
80%
|
19,80%
|
25-60
|
0,3
|
59
|
11,80%
|
92,00%
|
8,00%
|
10-30
|
0,15
|
33
|
6,60%
|
98,60%
|
1,40%
|
2-10
|
0,075
|
6
|
1,20%
|
99,80%
|
0,20%
|
|
PAN
|
1
|
0,20%
|
100%
|
0,00%
|
|
Modulus
Kehalusan = 4,336
|
|||||
6.5
Analisis
Grafik
3.1 Kurva Gradasi Agregat Halus
Berdasarkan analisa grafik yang didapat
dari hasil percobaan, dapat diketahui
bahwa kurva gradasi agregat halus ada yang
berada di luar batas atas dan batas bawah
jenis agregat halus yang seharusnya, sehingga dapat disimpulkan bahwa
agregat halus tersebut kurang layak untuk digunakan tidak sesuai dengan
ketentuan SPEC ASTM C33-90. Kondisi
yang tidak ideal ini dapat terjadi karena berbagai
kemungkinan kesalahan, contohnya yaitu
teknik mengguncangkan saringan yang kurang
baik dapat menyebabkan agregat yang seharusnya lolos menjadi tidak lolos karena
celah saringan yang tertutup dengan agregat kasar lainnya, atau bisa juga disebabkan oleh ketidaktelitian dalam mengukur massa
agregat kasar tersebut. Untuk mencapai kondisi
yang ideal,
dapat dilakukan pengguncangan atau penyaringan dengan teknik yang lebih baik dan pengambilan data yang lebih
teliti.
7
Analisis Saringan Agregat Kasar
7.1
Tujuan
Praktikum
Menentukan distribusi ukuran partikel
dari agregat kasar dengan uji saringan
7.2
Alat
dan Bahan Praktikum
a.
Timbangan dan neraca dengan ketelitian
0,2% dari berat benda uji
b.
Satu set saringan
c.
Oven yang dilengkapi pengatur suhu untuk
pemanasan sampai (110±5)á´¼C
d.
Alat pemisah contoh
e.
Mesin penggetar saringan
f.
Talam-talam
h.
Benda uji diperoleh dari alat pemisah
contoh atau dengan cara perempatan. Berat dari contoh disesuaikan dengan ukuran
maksimum diameter agregat kasar yang digunakan pada tabel perangkat saringan
7.3
Prosedur
Praktikum
1.
Mengeringkan agregat sampel tes dengan
berat yang telah ditentukan pada temperatur 110±5á´¼C, kemudian didinginkan pada
temperatur ruangan
2.
Menimbang kembali berat sampel agregat
yang digunakan
3.
Mempersiapkan saringan yang akan
digunakan
4.
Meletakkan sampel agregat di atas
saringan setelah saringan disusun
5.
Menggoyangkan saringan dengan
tangan/mesin
6.
Menhitung berat agregat pada
masing-masing nomor saringan
7.
Total berat agregat setelah dilakukan
saringan dibandingkan dengan berat semula. Jika perbedaannya lebih dari 0,3%
dari berat semula sampel agregat yang digunakan hasilnya tidak dapat digunakan
7.4
Hasil
Analisis Saringan Agregat Kasar
Tabel
3.12 Hasil Analisis Saringan Agregat Kasar
Ukuran
Saringan (mm)
|
Berat
Tertahan (gr)
|
Persentase
Tertahan
|
Persentase
Tertahan Kumulatif
|
Persentase
Lolos Kumulatif
|
SPEC
ASTM C33-90
|
25,00
|
0
|
0%
|
0%
|
100%
|
100
|
19,00
|
400
|
20,00%
|
20%
|
80%
|
90-100
|
9,50
|
1533
|
76,65%
|
96,65%
|
3,35%
|
20-55
|
4,75
|
67
|
3,35%
|
100%
|
0%
|
0-10
|
2,38
|
0
|
0%
|
100%
|
0%
|
0-5
|
Modulus
Kehalusan = 3,1965
|
|||||
7.5
Analisis
Grafik 3.2 Kurva Gradasi Agregat Kasar
Berdasarkan
analisa grafik yang didapat dari hasil percobaan, dapat diketahui bahwa kurva
gradasi agregat kasar berada di luar batas atas dan batas bawah jenis agregat kasar yang seharusnya,
sehingga dapat disimpulkan bahwa
agregat kasar tersebut tidak layak untuk digunakan tidak sesuai dengan
ketentuan SPEC ASTM C33-90. Kondisi
yang tidak ideal ini dapat terjadi karena berbagai
kemungkinan kesalahan, contohnya yaitu
teknik mengguncangkan saringan yang kurang
baik dapat menyebabkan agregat yang seharusnya lolos menjadi tidak lolos karena
celah saringan yang tertutup dengan agregat kasar lainnya, atau bisa juga disebabkan oleh ketidaktelitian dalam mengukur massa
agregat kasar tersebut. Untuk mencapai kondisi
yang ideal,
dapat dilakukan pengguncangan atau penyaringan dengan teknik yang lebih baik dan pengambilan data yang lebih
teliti.
8
Pemeriksaan Zat Organik dalam Agregat Halus
8.1 Tujuan Percobaan
Pemeriksaan
kadar organik pada agregat halus dimaksudkan untuk mengetahui kadar organik
yang terkandung dalam agregat halus. Kandungan bahan organik yang melebihi
batas yang diijinkan dalam agregat halus dapat mempengaruhi mutu beton yang
direncanakan.
Menurut persyaratan,
kadar organik dalam agregat halus tidak boleh melebihi batas yang diijinkan
sesuai percobaan warna dari Abrams-Harder dengan larutan NaOH (3%). Penggunaan
agregat halus yang tidak memenuhi syarat tersebut dapat dilakukan dengan syarat
kekuatan tekan beton pada umur 28 hari yang dihasilkan dengan menggunakan
agregat halus tersebut tidak kurang 95% dari kekuatan beton yang sama tetapi
dengan agregat yang standar, pada umur yang sama.
8.2
Alat dan Bahan
Ada
pun bahan yang digunakan dalam percobaan adalah sebagai berikut :
a. Botol
gelas tembus pandang dengan penutup karet atau gabus atau bahan penutup lainnya
yang tidak beraksi terhadap NaOH. Volume gelas = 350 ml
b. Standar
warna (Organik Plate)
c. Larutan
NaOH (350)
d. Benda
uji berupa dontoh pasir dengan volume 115 ml (1/3 volume botol)
8.3
Prosedur Percobaan
a.
Masukan 115 ml pasir ke dalam botol
tembus pandang (kurang lebih 1/3 isi botol)
b.
Tambahkan larutan NaOH 3%. Setelah di
kocok, isinya harus mencapai kira – kira ¾ volume botol
c.
Tutup botol gelas tersebut dan kocok
hingga lumpur yang menempel pada agregat nampak terpisah dan biarkan selama 24
jam agar lumpur tersebut mengendap.
d.
Setelah 24 jam, bandingkan warna cairan
yang terlihat dengan standar warna No.3 pada organik plate (Bandingkan apakah
lebih tua atau lebih muda).
3.8.4
Hasil
Pada pengujian agregat
halus, terlihat bahwa warna cairan sedikit lebih tua daripada standar warna
nomor 3 pada organic plate. Standar warna nomor 3 pada organic plate itu
sendiri merupakan batas toleransi kadar organic yang diizinkan. Warna yang
lebih tua menunjukkan bahwa kadar organik melebihi batas toleransi sehingga
agregat halus ini belum memenuhi syarat.
3.8.5 Analisis
Agregat halus dalam percobaan tidak dapat digunakan untuk concrete mix design karena melebihi
batas maksimum kandungan bahan organik yang diizinkan yakni indikator organic plate nomor 3. Kondisi tidak
ideal ini terjadi karena berbagai kemungkinan kesalahan, diantaranya adalah
botol yang tidak bersih dari sisa kandungan organik lumpur yang sebelumnya.
Untuk mencapai kondisi yang ideal dapat ditingkatkan ketelitian dalam memakai alat
percobaan.
Kadar organik yang melebihi batas dapat merugikan
pada beton. Hal ini disebabkan karena zat organik dapat bereaksi dengan semen
yang sedang mengeras sehingga menyebabkan berkurangnya kekuatan beton dan
menghambat proses hidrasi semen. Hal ini pula menyebabkan proses pengerasan
berlangsung lambat. Kadar organik yang sedikit masih dapat ditoleransi. Namun
jika jumlahnya melebihi batas toleransi dapat berpengaruh signifikan terhadap
beton karena lama-kelamaan dapat menyebabkan kerusakan pada struktur. Oleh
karena itu sangat diperlukan pengetesan lebih lanjut sebelum menentukan agregat
halus yang akan digunakan pada beton.
3.9
Pemeriksaan Kadar Lumpur dalam Agregat Kasar
3.9.1 Tujuan Percobaan
Menentukan
besarnya (persentase) kadar lumpur dalam agregat halus yang digunakan sebagai
campuran beton. Kandungan lumpur < 5% merupakan ketentuan bagi penggunaan
agregat halus untuk pembuatan beton.
3.9.2 Alat dan bahan
a)
Gelas ukur
b)
Alat pengaduk
c)
Benda uji berupa contoh
pasir secukupnya dalam kondisi lapangan dengan bahan pelarut biasa.
3.9.3 Prosedur Percobaan
a)
Contoh benda uji
dimasukan kedalam gelas ukur
b)
Tambahkan air pada
gelas ukur guna melarutkan lumpur
c)
Gelas dikocok untuk
mencuci agregat halus dari lumpur
d)
Simpan gelas pada
tempat yang datar dan biarkan lumpur mengendap setelah 24 jam.
e)
Ukur tinggi pasir (V1)
dan tinggi lumpur (V2)
9.4
Perhitungan
Keterangan:
V2 = Tinggi lumpur pada gelas ukur (mm)
V1 = Tinggi pasir pada gelas ukur (mm)
Tinggi
pasir setelah 24 jam =
168 mm
|
Tinggi lumpur setelah 24
jam
= 4 mm
|
Kadar
lumpur = 2,236 %
|
3.9.6
Analisis Data
Berdasarkan data hasil
percobaan yang telah dilakukan sebelumnya, kadar lumpur yang dihitung mencapai
2,236% yang berarti kurang dari 5%. Oleh karena itu, agregat halus ini cukup
baik untuk digunakan dalam mix design
beton.
Komentar
Posting Komentar